Melihat Balik Satu Dekade Hobi Ini

Kita akan masuk ke 2020 beberapa jam lagi dan saatnya JOI mempersembahkan artikel yang hanya bisa hadir sekali dalam satu dekade. Kali ini kita akan melihat balik tentang berbagai topik mengenai hal signifikan yang terjadi di hobi ini pada dekade terakhir.

The Narou Hole

Kaptain

Suka apa nggak, kalau dulu generasi TV didefinisikan oleh seri Jump, generasi streaming didefinisikan oleh Sword Art Online. Kadokawa sampai hari ini pingin ngulang kesuksesan ini dan ini ngakibatin oversaturasi genre sampai-sampai kontes nulis harus ngelarang sebuah genre. Tren gamifikasi di cerita juga punya efek pada output manga dan webtoon yang punya cita rasa serupa, karena gampang banget nulis konflik yang pada dasarnya itu “Skill level A+ ini menang buat ngelawan skill level A”.

Satu hal yang perlu diperhatiin soal penulisan seri Narou, kolom komentar memang berguna buat ngasih feedback untuk penulis. Hanya saja nggak jarang kalau ada seri yang ngambil ide dari kolom komentar sampai-sampai ngedikte gimana progresi cerita dilakukan. Ini memang menarik di penulisan kolaboratif, tapi saat sang penulis mulai go pro bakal keliatan jatohnya kualitas penulisan.

A bit of a tangent, tapi saya juga akhirnya nemu cara buat nilai seri yang barrier of entry-nya luar biasa rendah ini. Saya biasanya mulai dengan nanya “Ceritanya udah tamat?” bahkan untuk seri yang baru aja debut karena dialog pas ngomongin seri genre ini itu biasanya “protagonisnya punya cheat ini”, “haremnya ada x lusin”, “skill yang ga guna ini ternyata super overpowered”, dan sejenisnya. Pertanyaan itu bagus buat ngecek ada nggaknya progresi cerita sekaligus nyari tahu kalau si penulis mampu apa nggak nyelesaiin sebuah cerita dan ngedeteksi apakah si penulis kehabisan ide atau nggak ada niat buat nulis lagi. Minimal saya jadi nggak perlu denger soal sistem game oleh orang yang bukan desainer game.

The Quantity Focus

Kaptain

Dengan meningkatnya pasar Internasional berkat streaming dan pendanaan langsung dari perusahaan streaming yang relevan, harusnya bisa dirasakan sendiri banjir anime yang menerpa hobi ini. Dari kumpulan 5 fans yang bilang kalau mereka nonton 10 seri tiap musimnya, ada kemungkinan mereka nonton seri yang berbeda total saking banyaknya kuantitas anime yang rilis tiap musimnya.

Efeknya adalah seri yang dilupain setelah musimnya selesai karena epidemi FOMO (Fear of Missing Out) neken orang buat konsumsi produk selanjutnya sebelum selesai nyerna produk sebelumnya. Ini juga punya efek ke seri sekuel yang walaupun performa musim awalnya bagus musim lanjutannya malah jadi nggak kedengeran.

Hanya saja duit walau terus naik untuk komite produksi hanya sedikit yang turun ke bawah, Studio baik yang veteran maupun yang baru pada berjatuhan dan industri ini juga terus kehabisan staf veteran baik lewat muatan kerja maupun tragedi nasional. Tren ini akan terus berlanjut dan melihat pasar internasional mulai nemu dinding mereka, saya harap ini nggak berlanjut lama lagi.

The Fallen

Kaczmarek

Di setiap bisnis, pasti ada yang tumbuh namun juga ada yang layu kemudian mati. Layaknya Caterham, HRT, Prost, dan Arrows. Di pertengahan tahun 2010, kita sudah dibuat sedikit kaget dengan studio Group TAC yang harus gulung tikar. Meskipun demikian, banyak staf dari studio ini berhasil mendirikan studio Diomedea yang masih eksis hingga kini. Kemudian studio-studio kecil dan besar lainnya berjatuhan juga seperti:

  1. PALM (2010)
  2. Frontline (2010)
  3. Rikeuntai (2012)
  4. REMIC (2015)
  5. Manglobe (2015)
  6. Studio Fantasia (2016)
  7. Mugenkan (2017)
  8. Production IMS (2018)
  9. Lide (2019)
  10. Tear Studio (2019)

Dari beberapa nama studio tersebut, Manglobe dan Production IMS yang paling menarik perhatian banyak orang. Keduanya runtuh dikarenakan beban biaya produksi yang menggunung dan hutang perusahaan kepada kreditor mencapai lebih dari 250 juta yen. Tahun ini, Tear Studio juga harus gulung tikar lebih cepat di tengah masa penayangan film OVA mereka, Fragtime. Perwakilan direksi menghilang begitu saja, dan komite produksi filmnya harus membuat pernyataan resmi terkait ini. Hingga muncullah berita terkait proses pembangkrutan studio pada awal bulan ini.

Kaptain

Nggak bangkrut sih, tapi ada beberapa perusahaan yang sekarang itu secara efektif hantu dari pencapaian besar mereka. Untuk Gainax saya udah nulis artikelnya barusan, jadi sekarang saya akan fokus ke Shaft. Untuk kalian yang belum tahu, kebanyakan talentanya sudah minggat ke studio seperti David Pro yang paling nggak bisa nyelesaiin proyek on schedule. No amount of talent and passion can prop up a bad management.

Custom Order Maid 3D on Top Seller Steam, Somehow

Kaptain

Steam sendiri ngaku kalau mereka awalnya antipati ngebiarin VN masuk ke toko mereka, cuma ya melihat kurasinya Steam itu pada dasarnya itu “bodo amat” dari tahun ke tahun sampe Taimanin aja bisa dimainin di Steam.

Sisi positifnya adalah developer Jepang jadi makin melek dengan pasar ini dan melihat pasar CN mulai mendominasi demand buat game weeb juga makin meningkat dan JRPG juga jadi gampang masuk. Tapi di sisi lain ya kita kebanjiran game macem Hentai Redemption dan berbagai RPG Maker low effort lainnya

Kaczmarek

Agak mencurigakan melihat Valve mengijinkan beberapa VN yang beresiko tinggi untuk membuka lama penjualan mereka. Terlebih ada studio dari mainland yang membuka laman penjualan VN mereka di Steam dan beberapa hari sebelum tanggal rilisnya, harus dihapus karena material yang digunakan ternyata complete rip-off dari novel visual lainnya. Blunder yang dilakukan Valve terkait dua hal ini cukup bikin geram sejumlah pemain, termasuk saya.

The Importance of Being Meme Worthy

Kaptain

Bahasa non-cancernya adalah “pentingnya memiliki gaya yang distinktif untuk retensi ekposur brand terhadap konsumen” yang setelah saya nulis malah jadi kanker yang berbeda. Saya inget awalnya adaptasi anime ini dikritik karena “grafiknya jelek” tapi nyatanya ya adegan seri parodi ini malah jadi sering banget diparodiin sampe sekarang berkat karakter yang sangat ekspresif. Ini juga ekpresinya nular ke berbagai merchandise-nya yang produsennya melek dengan nilai jualnya.

Masih nyambung soal kuantitas di atas. Di industri game sendiri berkat perkembangan streaming aspek “enak ditonton” juga diperlukan untuk membuat game sukses. Seri yang luar biasa bagus sekalipun seringkali cuma ditonton sekali oleh kebanyakan orang. Membuat konten viral juga nggak bisa jadi on demand namun staf Konosuba punya batting average yang bagus buat aspek ini.

The Rise of VTuber

Kaczmarek

Meledaknya pasar pada platform Youtube di pertengahan dekade ini, kemudian didukung dengan munculnya VTuber unik alias aneh, menandakan kemunculan arus baru dalam media ini. Meskipun di luar Jepang, VTuber sendiri sudah muncul duluan di awal dekade seperti Ami Yamato, namun terminologi ini mulai dikenal oleh masyarakat disana pada akhir 2016 atau awal 2017-an. Di saat itu juga muncul beberapa VTuber seperti Kizuna Ai, Kaguya Luna, SIRO, Mirai Akari dan masih banyak lagi.

BlueHeaven

Saya lebih suka mereka dipanggil Virtual Liver karena beberapa dari mereka memanfaatkan platform seperti Niconico, Twitch bahkan Facebook Live selain dari Youtube. Tapi ya, mungkin karena diawali oleh Kizuna Ai di Youtube membuat panggilan VTuber sangat akrab. Akhir-akhir ini virtual liver lebih dari sekedar entertainer. Mereka sudah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan sehingga terbentuk beberapa agensi seperti Hololive atau Nijisanji yang sudah dibuka cabangnya di Indonesia itu sendiri. Saya harap ini bukan sensasi sementara, karena beberapa dari mereka sudah mengumumkan pensiun di tahun ini.

The Decline of Magazine Sales

Kaczmarek

Gentlemen, a short view back to the past. 60 years ago, Weekly Shounen Sunday and Weekly Shounen Magazine published their first ever issue. 50 years later, both of them still printed their magazine, and after that, the decline of sales rose. Untuk Weekly Shounen Sunday, angka penjualan majalah ini makin turun 1-2 juta eksemplar per tahunnya. Sementara itu, Weekly Shounen Magazine tidak jauh berbeda dengan majalah sebelumnya, namun dengan nilai penurunan yang lebih kecil. Kalian bisa mengecek langsung sirkulasinya di laman www.j-magazine.or.jp/ . Penurunan penjualan ini juga dialami majalah mingguan lainnya seperti Weekly Shounen Jump, Weekly Young Jump, Weekly Young Magazine, Weekly Morning, dan masih banyak lagi.

Salah satu alasan menurunnya penjualan majalah fisik ini tak lain dan tak bukan adalah era digital. Mengesampingkan hal itu, pendapatan dari iklan yang mungkin 10 tahun lalu nilainya sangat besar, kini harus terjun akibat tergerus oleh media digital. Media digital yang dinilai lebih praktis dan murah dalam mempromosikan produk menjadi salah satu alasan mengapa pendapatan dari industri cetak ini makin berkurang.

Meskipun begitu, majalah-majalah ini masih menjadi penyambung informasi tercepat dalam publikasinya. Sehingga masih banyak bocoran yang sering muncul dalam suatu pengerjaan proyek tertentu, entah itu live-action, film, anime, manga, game, konser dan lain-lain. Beberapa hal yang tentunya menjadi info bocoran ini seperti teaser visual, wawancara singkat, dan masih banyak lagi.

The Culture of Waifu per Series

Kaczmarek

Makin mudahnya akses internet dalam satu dekade ini tentunya mendorong umat manusia di Nusantara untuk mencari tahu hal yang membuat mereka penasaran. Mulai dari keinginan nonton anime jadul yang pernah mereka lewatkan, hingga mengenal budanya jejepangan lainnya, sampai menjadi bagian dari salah satu fandom. Alur ini mungkin masih akan berlanjut menjadi hal baik dan buruk, namun kita lihat sisi terbaiknya saja, sebagai contoh waifu per series.

Awal dekade ini, kita dipersembahkan oleh musim pertama anime seperti Durarara!!, Baka to Test to Shoukanjuu, Seikon no Qwaser, Omamori Himari, dan masih banyak lagi. Bersamaan dengan serial tersebut, anime lainnya yang juga masih tayang diantaranya seperti One Piece, Gintama, FMA, Bakemonogatari, dan Naruto: Shippuuden. Mengingat kala itu, banyak yang menyukai karakter berdada besar macam Hanekawa Tsubasa, hingga yang imut-imut seperti Mizuka Himeji. Saya juga tak mengesampingkan banyak yang suka karakter berjenis kelamin Hideyoshi.

Tentu saja, awal dekade ini sebenarnya bukan jadi awal dari budaya waifu per series di Indonesia. Jauh sebelum akses internet sudah mulai dinikmati banyak orang, budaya ini sudah muncul namun hanya dalam lingkaran-lingkaran kecil yang sulit ditemukan. Semenjak media sosial muncul semacam Facebook, muncullah tren grup-grup penggemar karakter atau serial yang makin menampakkan bahwa ada kebiasaan yang makin dianggap legal bagi manusia non konservatif disini. Perkembangan selanjutnya kini sudah menjadi sejarah hingga masa kini, mulai dari makin banyaknya orang yang mengenal serial-serial entah itu animemanga, game dan lainnya. Everything could be worse or better from this point.

Isekai, The Phenomenal One

BlueHeaven

Perkenalkan, salah satu subgenre yang sangat berkembang di dekade ini, ialah isekai. Isekai ini sebenarnya bukan produk baru yang muncul di dekade ini, hanya saja isekai mulai mewabah bahkan sampai overflow sepanjang dekade ini. Saya yakin SAO adalah pemicunya (saya tidak keberatan kalau SAO dipanggil anime of decade). Meski banyak ujaran kebencian terhadap karya Reki Kawahara ini, tidak dapat dipungkiri SAO lah yang menjadi titik awal bagi banyak wibu yang baru lahir di generasi ini. Bagaimana mungkin tidak, sebuah anime dimana kamu bisa memasuki dunia game dan “bersenang-senang” dalam petualangan mencari jalan kembali, dikelilingi potensi harem tidak menggoda para penonton.

Melihat kesuksesan SAO yang menjadi salah satu penjualan terbesar bagi light novel maupun animenya membuat banyak penulis atau studio anime berbondong-bondong membuat cerita isekai. Apalagi subgenre ini sangat cocok dengan orang Jepang yang tidak bisa menikmati kehidupan keras yang mereka jalani. Jalan pintas dengan ditabrak truk, MC dipanggil ke isekai, punya kekuatan OP serta pastinya ingatan masa lalu, tugasnya menyelamatkan dunia yang dia tempati sekarang, dan tentunya dikelilingi harem adalah plot common dari isekai. Selain plot yang itu-itu saja, menjamurnya isekai di light novel masa kini juga membuat banyak orang mulai membenci subgenre ini, sampai-sampai dibilang sangat ampas.

Memang membuat cerita isekai cukup mudah, tapi tidak semua isekai tampaklah buruk. Beberapa isekai yang telah tayang selama dekade ini cukup layak untuk masuk dalam daftar nontonmu. Sebut saja Re:Zero, Overlord, Konosuba, GATE, Tate Yuusha, Tensura adalah contoh isekai yang tidak dapat kamu lewatkan. Ada juga isekai yang plotnya uncommon seperti Isekai Shokudou dan Honzuki. Belum lagi kita dihadapkan dengan salah satu isekai yang paling diantisipasi di tahun 2020: Mushoku Tensei.

Tarik Ulur Manga Romance

BlueHeaven

Seingat saya yang namanya genre romance biasanya berfokus pada 1 pair yang terbentuk secara manis, fokus pada development pasangan tersebut, hingga mereka menemukan kebahagiaan sejati. Beberapa tokoh lain disertakan demi mendukung hal itu sehingga unsur romansanya semakin terasa. Karena itu serial seperti Ore Monogatari, Ao Haru Ride, Orange, Tonari no Kaibutsu-kun, Tonikaku Kawaii sangatlah nikmat untuk dibaca. Tapi untuk beberapa manga romance akhir-akhir ini tidaklah demikian.

Domestic Kanojo, Kanojo Okarishimasu, Go-toubun no Hanayome adalah sedikit contoh dari banyaknya manga romance yang keluar dari jalur murni tersebut. Masalahnya begini. Entah apa yang merasuki author tapi mereka seperti tidak bisa membuat progress untuk pair yang diusung. Mereka malah menambahkan karakter lain bukan untuk mendukung, tapi untuk development karakter baru sendiri, seakan-akan hubungan heroine yang lama dipause dulu. Jangan salah sangka, saya ga bilang banyaknya calon heroine seperti Go-Toubun itu salah, yang menurut saya salah disini adalah penambahan karakter demi memperpanjang umur manga. Go-Toubun menambahkan karakter wanita osananajimi diluar kelima kembar membuat saya melepas pengikutan saya terhadap manga biadab ini (dari segi plotnya bukan authornya). Hal yang lebih parah ditunjukan oleh Kanokari. MC yang plin plan cocok memperpanjang umur manga, meskipun kita sudah tahu siapa yang bakal menang. Kanokari awalnya hanya menampilkan 2 karakter utama, kemudian ditambah rival, trus ditambah lagi, dan terus bertambah sampai mungkin suatu waktu pembacanya akan bosan. Domestic Kanojo terus memperkeruh jalan manga tanpa adanya kemajuan berarti dengan terus menambahkan heroine yang mendekati MC (trus bakal tertolak) berulang kali. Tarik ulur seperti inilah yang menjadi tren membuat romance dekade ini sudah tidak polos malahan ingin menjadi seperti harem tapi ujung-ujungnya bukanlah harem.

Hall of Feels

BlueHeaven

Dekade ini kita banyak disuguhi anime yang menguras air mata. Mungkin air mata yang sudah kita teteskan selama ini, sudah cukup membuat banjir satu kompleks. Angel Beats, Shigatsu wa Kimi no Uso, Anohana, Kimi no Nawa, Koe no Katachi, Violet Evergarden, Maquia, Sora Yori mo Tooi Basho, Kimi no Suizou wo Tabetai adalah seri populer yang membuat banjir para penontonnya. Anime ini memang bukan sembarang ngefeels. Mereka dibuat sedemikian rupa hingga mencapai titik terdalam emosi yang bisa dikeluarkan manusia. Tapi yang paling sedih bagi para otaku adalah peristiwa pembakaran studio Kyoto Animation. Tentunya ini menimbulkan luka yang mendalam tapi kita harus bangkit dan menatap dekade yang sudah menanti untuk kita telusuri as long as we breathe.

Ada banyak sekali hal yang terjadi dalam 10 tahun jadi tentunya kami tidak akan bisa meliput selama menyeluruh. Untuk kalian sendiri apa kesan kalian untuk dekade kedua milenium ini?

Header: Algae